Sastrawan dan pendiri Tempo, Goenawan Mohamad, menuliskan sebuah kisah nyata yang dianggapnya mirip dengan nasib tragis yang dialami oleh Basuki Tjahaja Purnama. Sebagaimana diketahui, Ahok yang telah berjasa membangun DKI Jakarta kini harus mendekam di dalam penjara gara-gara masalah SARA.

Goenawan Mohamad sendiri adalah pendukung Ahok. Baginya, vonis yang diterima Ahok tidaklah adil. Itulah sebabnya, ia getol membela Ahok melalui aksi nyata maupun dari media sosial.

“Ahok tak naik banding. Tak berarti vonis hakim jadi adil. Ahok tak ingin melihat Jkt jadi arena konflik yg berkepanjangan. Dari pernyataan Ahok yg dibacakan Vero, isterinya, tampak: Ahok lebih berbudi ketimbang musuh2nya. Tanpa ia perlu dipuji-puja,” tulisnya di akun Facebook.

Selain itu, di bawah ini silakan simak tulisan Goenawan Mohamad tentang kisah Alfred Dreysus di Perancis yang mirip dengan kisah Ahok di Indonesia:

“Ahok ada, pernah ada, akan ada. Tempatnya lain, waktunya berbeda, tapi tiap kali kita akan ingat ketika ketidakadilan berhasil menghukum orang yang tak bersalah, ketika politik, kebencian, dan purbasangka disebut “hakim.”

Di Perancis, di akhir abad ke-19, ‘Ahok’ bernama Alfred Dreyfus. Ia opsir pasukan artileri, seorang keturunan Yahudi dari daerah Alsace, di Timur Laut Prancis, di perbatasan dengan Jerman. Ia didakwa membocorkan rahasia militer ke pihak Jerman; dengan bukti yang terlalu tipis, ia dinyatakan bersalah melalui proses pengadilan militer yang tertutup. Ia dipecat dengan tak hormat.

5 Januari 1895, sebuah upacara digelar di halaman l’École Militaire di Champ-de-Mars, Paris, untuk mempertontonkan pemecatan itu ke depan publik. Perwira yang dianggap pengkhianat itu harus mematahkan pedangnya di lutut di hadapan pejabat yang menghukumnya. Medalinya direnggutkan dari baju seragamnya yang dirobek dan ia disuruh berjalan berkeliling lapangan, untuk diludahi dan dicemooh. Dreyfus tetap mencoba menyuarakan kesetiannya kepada Perancis, tapi khalayak berteriak terus, “Yahudi jorok!”, “Pengkhianat!”. Yang terhasut dan penghasut bersatu.

Seorang wartawan sayap kanan yang terkenal, Maurice Barrès, menulis dengan penuh kebencian: ia gambarkan bagaimana kacamata Dreyfus bertengger di hidungnya yang “etnis” yang Yahudi, dan bagaimana sosok tubuhnya yang “asing” menimbulkan rasa mual bagi yang melihatnya.

Kemudian ia dibuang ke Pulau Iblis, nun di Amerika Selatan, dijaga ketat, untuk seumur hidup.

Seluruh proses adalah sebuah skandal. Bukti untuk menghukum Dreyfus hanya sebuah tanda tangan pada bordereau, memo rahasia seorang perwira Perancis di Markas Besar yang berisi penawaran informasi kepada atase militer Jerman. Tanda tangan itu tidak cocok dengan tanda tangan Dreyfus, tapi penyidik menandaskan bahwa ketidakcocokan itu karena “dipalsukan”.

Empat tahun kemudian, kesewenang-wenangan ini terungkap, berkat kerja keras Mathieu, adik Dreyfus, yang mengumpulkan data dan koneksi untuk membuktikan sesatnya pengadilan kakaknya. Kecaman mulai terdengar, kian lama kian keras, kepada kalangan militer yang menutup-nutupi kepalsuannya. 

Kasus pun dibuka kembali. Seorang perwira lain, Mayor Esterhazy, kini dituduh, dengan bukti yang lebih meyakinkan, sebagai si pengkhianat. Tapi para pembesar tentara tetap mempertahankan posisi dan institusi mereka, dan vonis bagi Dreyfus tak berubah. Di saat itulah Emile Zola menyiarkan sebuah pamflet, ‘J’accuse’ (Aku menuduh). Sastrawan besar itu mengarahkan telunjuknya ke muka jenderal dan kolonel yang memanipulasi peradilan. 

Tapi kata-katanya melampaui sekadar amarah. Ia menulis dalam pamflet itu: “Satu kejahatan untuk meracuni pikiran orang-orang yang halus budi dan bersahaja, dengan mengobarkan geloran reaksionisme dan anti toleransi…. Satu kejahatan untuk memanfaatkannya semangat patriotik dengan melayani kebencian.”

Polemik pun membelah masyarakat Perancis. Zola diadukan sebagai pemfitnah. Ia diadili — dan melarikan diri ke Inggris. Kian tajam ketegangan antara para “Dreyfusard” yang yakin Dreyfus tak bersalah, dan mereka yang meneriaki perwira itu sebagai “Judas,” nama Yahudi yang mengkhianati Yesus. 

Purbasangka rasial jadi api. Anti-semitisme menyusup dalam ke masyarakat Katolik Perancis yang juga membawa panji-panji anti-asing. Juru bicara rasialisme, seperti harian Katholik la Croix dan koran Édouard Drumont, la Libre Parole, menebarkan benih paranoia sosial yang kian akut. 

Pada gilirannya, kasus Dreyfus memicu gerakan Zionisme yang meyakini perlunya umat Yahudi — yang ditolak bahkan di Perancis — punya tanah air sendiri. 

Tapi cerita-cerita besar tak punya satu faset. Pendiri Zionisme, Theodore Herzel, justru percaya Dreyfus bersalah. Di sisi lain Dreyfus sendiri tak melihat ia dianiaya karena ke-Yahudi-annya. Ia meyakini republik yang ia cintai tetap republik dengan cita-cita Revolusi Prancis yang memisahkan agama dari kekuasaan politik dan mengakui hak yang sama bagi setiap orang.

Tapi baru pada 1906, haknya dipulihkan. Ia diterima kembali di ketentaraan dengan pangkat dinaikkan jadi mayor dan menerima bintang la Légion d’honneur.

Namun tetap ada hal lain yang merisaukan, dalam kisah Dreyfus di Perancis abad ke-19 seperti halnya cerita Ahok di Indonesia abad ke-21. Sebagaimana ditulis Adam Gornik dalam The New Yorker 28 September 2009, kasus Dreyfus penting diingat karena di sana tampak bagaimana sejumlah besar orang yang penuh senyum ternyata mudah melibatkan diri dalam kebencian yang brutal — kebencian yang terbit dari keyakinan agama. “Kebencian dan perilaku bigot bukan sisa masa lalu yang dikuasai takhayul,” tulis Gornik, “tapi seunggun api yang hidup — yang mudah datang dan membakar.” 

Dari Ahok ke Ahok: agama memang tampak memisahkan diri dari apa yang semula jadi akar rohaninya sendiri: kerinduan akan kebenaran, kerinduan akan keadilan, kerinduan akan damai.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s