Pilgub DKI Jakarta telah usai. Anies Baswedan dan Sandiaga Uno menang atas Basuki Tjahaja Purnama dan Djarot Saiful Hidayat. Meski demikian, kontroversi pilkada masih berlanjut hingga saat ini.
Salah satu pendukung Ahok yang bernama Junita Kartikasari, menceritakan isi hatinya setelah pilkada berakhir melalui postingan di Facebook. Tulisannya pun viral karena dinilai menyentuh dan banyak yang setuju akan isinya. Berikut di bawah ini kamu bisa baca postingan Nita selengkapnya!

Pilkada DKI 2017 is personal for me!

Saya Muslim. Alhamdulillah dari lahir. Alhamdulillah dari kecil sudah mengaji. Kata almarhumah Mama, waktu kecil mau masuk SD saya punya 2 pilihan sekolah, sekolah swasta biasa atau swasta Kristen. Saya bilang sama Mama aku mau yang biasa saja. Saya tidak berkerudung, jadi mungkin banyak orang akan memandang saya sebelah mata saat saya bicara tentang Islam, karena memang sebagai manusia we do judge book from its cover.

Apalagi saat ini, ketika saya menjadi bagian dari Tim Kampanye Rakyat Basuki-Djarot dan dengan bangga memilih nomor 2.

Saya kenal Pak Ahok karena “dipaksa” Allah SWT melalui Ayu Kartika, teman saya yang merupakan Tim Gubernur. Pulang dari Singapura, kemudian membantu Pemprov DKI di bawah Pak Ahok membenahi BPTSP/Badan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (badan yang memiliki reformasi tercanggih saat ini) dan mengerjakan proyek Ease Doing Business. Di sini saya merasa terpesona dengan gaya kepemimpinan Pak Ahok dan ketulusan serta kerja keras beliau untuk warga Jakarta.

Sebagai seorang komunikasi profesional yang anti masuk politik dan “pemerintahan”, saat saya masih di Singapura membaca berita tentang hebatnya Gubernur Jakarta ini, saya berpikir, pencitraan kali ya, masa sih keren begini. Saat saya bekerja langsung di Balai Kota bersama Pak Edy Junaedi (Kepala BPTSP), saya angkat semua jempol tangan dan kaki plus senyum lebar tidak hanya di bibir tetapi juga hati. I did it pro-bono karena saya sudah lama haus dengan pemerintahan jenis Ini, dan saya punya harapan besar Jakarta jadi kota yang disegani.

Saat Pak Ahok dituduh menistakan agama, saya sudah kembali ke dunia profesional. Kemudian muncul Anies Baswedan, menteri yang dipecat Pak Jokowi. Sekali lagi Allah SWT “memaksa” saya terjun membantu Pak Ahok-Djarot di kampanye rakyat sebagai PR officer. Seiring dengan berjalannya masa kampanye, bombardir kampanye gelap menggunakan agama makin membuat saya semangat untuk berjuang bersama ratusan orang lainnya yang cinta Jakarta dan banyak yang dulunya kayak saya, anti berhubungan sama politik.

“Kafir lo Nit! Semoga Nita dapat Hidayah dan memilih pemimpin Muslim! Nita inget mati loh! Ya Nita saja nggak kerudungan, pantas nggak ngerti agama!” Itu beberapa hujatan yang saya terima dan sebagian dari keluarga terdekat. He he he, they messed up with the wrong person. The more you judge me for something that is not true, the more i am on fire.

Saya Muslim, tidak berkerudung, tapi alhamdulillah saya belajar tentang Al-Qur’an dan hadist dengan berbagai guru agama, terutama setelah saya mengalami sendiri betapa sadisnya doktrin agama Islam yang salah, dan itu dimulai dari kepicikan pemikiran bahwa ulama adalah segala-galanya dan orang yang bukan Islam tidak memiliki hak yang sama, tidak boleh berbuat salah dan halal darahnya. Saya adalah a survival of Bomb Ritz Carlton. So, it’s personal to me!

3 bulan ke psikiater dan menemui berbagai ulama adalah cara healing saya. Saya cuma punya 1 pertanyaan kepada setiap ulama yang saya temui “tunjukkan kepada saya ayat dalam Alquran dan tulisan dalam hadist yang mengatakan bunuh diri dan membunuh orang lain in random places bisa membuat orang tersebut masuk surga?”.

Berbagai jawaban diberikan, tetapi ada beberapa hal yang membuat ketenangan di hati saya mulai timbul dan rasa malu saya sebagai orang Islam saat itu berkurang. “Jihad harus di mulai dari diri kita, Alquran dan hadist tidak mengajarkan kita untuk membunuh orang lain tanpa hukum yang jelas. Ayat dalam Alquran saling terkait satu dengan lain, sehingga mengkaji ayat Alquran harus berkesinambungan. Untuk itulah kita diminta untuk selalu juga melihat hadist, karena hadist adalah bagaimana Rasullullah menginterpretasikan ayat-ayat di Alquran dalam kehidupan sehari-hari.”

Salah satu kyai yang tinggal di Bogor mengatakan kepada saya, “Jangan hanya belajar agama hanya dengan 1 ulama, belajarnya dengan sebanyak-banyaknya ulama, karena ulama hanya manusia biasa. Belajar dan mengaji dengan hanya satu ulama sajalah yang akhirnya menjadikan seseorang mengultuskan seorang ulama dan ini bisa menjurus ke Islam yang radikal. Seperti yang Allah SWT dan Rasullullah serukan “Belajarlah Sampai ke negeri China” — buka Wawasan kita sebanyak-banyaknya. Jangan pernah merasa kita yang paling hebat dan yang bukan Islam pasti neraka. Karena surga dan neraka hanya milik Allah SWT. Habluminanas – Habluminallah harus selalu seimbang.”

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS Al Hujuraat : 13).

Islam adalah agama yang menyejukkan dan luar biasa Indah dan damai. Ketika seseorang menuding kalau kita memilih gubernur bisa masuk neraka, hanya karena gubernur tersebut non-muslim walaupun cara memimpinnya sangat Islami, membangun banyak masjid, memberikan keadilan sosial bagi masyarakatnya. I felt like we are mocking Allah SWT. Karena Allah SWT Maha Besar, Maha Tahu, Maha Pemaaf, Maha Segala-galanya. Saya malah berpikir sebaliknya. mungkin Allah SWT is mocking us, Indonesia yang katanya negara mayoritas Muslim. Yang selama ini Gubernurnya selalu orang Islam tetapi kotanya nggak maju-maju karena cuma status gubernurnya orang Islam , tetapi menjalankan pemerintahannya tidak Islami. Sekarang gubernurnya non-Islam, tetapi menjalankan pemerintahan dengan cara Islami, sehingga dalam 2 tahun perubahan yang terjadi sangat signifikan. Mungkin Allah SWT memaksa kita untuk bercermin dan berbenah diri.

Seharusnya para pejabat pemerintahan yang Islam, tapi belum Islami merasa malu dan belajar dari Pak Ahok, kemudian menjalankan pemerintahan yang Islami seperti beliau. Maka dengan sangat bangga saya akan memilih pejabat Islam yang islami tersebut.

So it is personal! karena mereka menggunakan agama saya yang sangat saya cintai untuk politik dan membohongi masyarakat, and worst, you are mocking Allah SWT!

Hai para ulama yang mengaku berjuang untuk Islam dengan semua serial number demo damai. Saya cuma punya satu pertanyaan simpel, “Apakah kalian tidak malu melihat foto-foto besar kalian ada di mana-mana, sesumbar kalian dianiaya, ketika Rasullullah SAW, pemimpin tertinggi Islam tidak mau memiliki gambar satu pun di dunia ini?”

Dear Pak Ahok, terima kasih atas keikhlasan bapak untuk mencintai kami tanpa terkecuali. Terima kasih atas semua kerja keras bapak dan keberanian bapak pasang badan untuk kami. Terima kasih untuk semua kemarahan bapak bagi korupsi dan ketidakadilan. Terima kasih untuk melayani kami tanpa henti, terima kasih untuk senyum bapak kepada setiap masyarakat yang datang mengeluh, curhat ataupun berbagi bahagia kepada bapak. Terima kasih sudah memimpin Jakarta dengan cara yang islami.

Dear Pak Djarot,
Terima kasih sudah mendampingi gubernur non-Islam yang islami ini dengan tulus hati dan tanpa lelah. Terima kasih untuk menjadi contoh seorang Muslim yang seutuhnya.

Warga Jakarta dari lahir,
Nita Kartikasari

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s