Banyak yang bersuara atas "dugaan penistaan agama". Tapi tak banyak suara atas "aksi teror yang membunuh atas nama agama". Kenapa kemunafikan dibina? ~ Anggun C. Sasmi

Beginilah kondisi negeri ini sekarang. Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) tengah menghadapi kasus tudingan penistaan agama hingga ke ranah hukum, setelah puluhan ribu massa turun ke jalan dalam “Aksi Damai – 4 November 2016”, untuk menuntut Ahok dipenjara.

Akhirnya, terhitung mulai 16 November 2016, Ahok kemudian ditetapkan menjadi tersangka penistaan agama Islam gara-gara ucapannya mengenai Surat Al Maidah ayat 51 di Kepulauan Seribu.

Benarkah Ahok menista Alquran? Terlepas dari muatan politis yang tersirat dalam kasus ini, namun karena sudah masuk ke ranah hukum, biarlah hukum yang menjawabnya nanti di persidangan.

"Kita ini kan negara hukum. Ya taat hukum saja. Iya kan, kalau saya memang ditetapkan jadi tersangka, saya akan jalani proses hukum, iya kan. Kalau memang saya dinyatakan salah atau tidak harus diproses hukum. Tapi saya yakin saya tidak ada salah. Enggak ada niat saya kok," ujar Ahok.

Selain itu, terlepas dari kasus Ahok, ada hal menarik yang juga bisa disimpulkan dalam kicauan Anggun di atas, yakni terkait aksi teror mengatasnamakan agama.

Seperti diketahui, baru-baru ini terjadi pengeboman di gereja Oikumene, Samarinda yang merenggut nyawa bocah 2 tahun bernama Intan Olivia Marbun. Pelaku bernama Juhanda, dan saat melakukan aksinya itu, ia menggunakan kaos bertuliskan “Jihad”.

Tentu banyak yang bertanya-tanya, bagaimana tanggapan para ormas dan politikus yang sangat lantang menentang dan menuding Ahok menista agama, sedangkan yang nyata-nyata beragama dan menggunakan atribut agama dalam melakukan aksi pembunuhan, malah tidak mendapatkan kecaman yang begitu besar hingga turun ke jalan.

Kicauan Anggun ini bisa mewakili isi hati banyak kaum minoritas di Indonesia. Tanpa ada maksud mendiskreditkan suatu agama (karena sejatinya semua agama di Indonesia itu baik), kicauan tersebut lebih ditujukan untuk sejumlah oknum yang berteriak lantang kepada “kafir” di dunia politik, tapi tak banyak bersuara ketika ada aksi teror yang mengatasnamakan agama yang menyerang “kafir”.

Tentunya, tindakan terorisme tidak dibenarkan oleh semua agama. Meski ada kaum muslim radikal yang salah kaprah ketika melakukan pengeboman, mereka hanyalah sesat. Untuk itu, jangan sampai terprovokasi.

Akhir kata, marilah berimbang dalam menggunakan agama maupun hukum ketika membela kebenaran. Jangan sampai menjadi penista keadilan, kedamaian, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika.