Sudah berapa kali Ahok diserang dengan isu SARA? Banyak sekali, sejak Jokowi-Ahok mencalonkan diri dalam Pilgub DKI 2012. Tapi kali ini, sudah sangat keterlaluan menurut saya.

Berbagai sentimen rasis agar masyarakat tidak memilih Ahok karena dia “cina” dan “bukan Muslim” memang sudah berlebihan. Sentimen ini tidak hanya mengusik warga DKI, tetapi sudah mengusik masyarakat luas di seluruh Indonesia.

Hal yang kini lagi heboh adalah tudingan bahwa Ahok melakukan penghinaan terhadap ayat suci Alquran, surat Al Maidah ayat 51, ketika dia berkunjung ke Kepulauan Seribu dan berdialog dengan warga setempat.

Dalam video lengkap yang diunggah resmi oleh Pemprov DKI, tak ada terlihat reaksi tersinggung oleh warga setempat yang beragama Muslim. Mereka bahkan tertawa seperti sedang menonton Stand Up Comedy.

Tapi, hampir dua minggu setelah kunjungan Ahok itu, beredar editan/potongan video tersebut dan menjadi viral. Ahok dituduh telah mengatakan bahwa surat Al Maidah ayat 51 adalah kebohongan. Padahal, Ahok ingin menyampaikan bahwa terkadang ada orang yang kerap menyalahgunakan agama untuk kepentingan politik yang tidak benar, dan dia tidak suka hal itu.

"Saat ini banyak beredar pernyataan saya dalam rekaman video seolah saya melecehkan ayat suci Al Qur'an surat Al Maidah ayat 51, pada acara pertemuan saya dengan warga Pulau Seribu. Berkenaan dengan itu, saya ingin menyampaikan pernyataan saya secara utuh melalui video yang merekam lengkap pernyataan saya tanpa dipotong. Saya tidak berniat melecehkan ayat suci Al-Quran, tetapi saya tidak suka mempolitisasi ayat-ayat suci, baik itu Al-Quran, Alkitab, maupun kitab lainnya." - Ahok

Ahok sebenarnya menegaskan kepada warga agar silakan memilih sesuai hati nuraninya, dan jika mereka mempercayai bahwa Muslim harus memilih pemimpin Muslim, maka itu terserah mereka. Dia hanya tidak suka dengan oknum yang picik menggunakan agama untuk menyerang personal.

Mungkin haters Ahok yang suka mengangkat isu SARA menganggap hal ini hanyalah persoalan untuk mengalahkan Ahok semata. Namun jika Anda semua mau berpikir ke depan, sentimen untuk memilih pemimpin yang seagama dan beritanya dibesar-besarkan secara nasional melalui media massa dan media sosial adalah suatu tindakan yang merusak persatuan bangsa.

Siapa pun berhak memilih pemimpin yang disukai berdasarkan kriteria apa pun. Lebih memilih pemimpin seagama daripada yang berbeda agama pun sudah menjadi hal yang biasa dilakukan banyak orang sejak dahulu. Namun gara-gara ada seseorang bernama Basuki Tjahaja Purnama, sejumlah orang membesar-besarkan sentimen SARA.

Indonesia ini negara Pancasila yang berketuhanan Yang Maha Esa. Indonesia bukan negara berdasarkan satu agama tertentu. Meski Islam adalah agama mayoritas, tapi benarkah hanya orang Islam yang berhak memimpin negeri ini?

Saya kemudian berpikir bagaimana nasib Muslim di Amerika misalnya, atau di negara yang Islam adalah agama minoritas, apakah Muslim di sana selama ini golput karena calon presidennya bukan orang Islam? Atau hanya Muslim Indonesia yang mengutamakan faktor agama dalam memilih pemimpin, dibandingkan visi-misi dan kemampuan orang itu? Entahlah, karena banyak orang menafsirkan surat Al Maidah ayat 51 itu berbeda-beda.

Jika Ahok kalah secara wajar, tentu bukan masalah besar. Namun jika Ahok gagal menjadi pemimpin hanya karena sentimen SARA, maka hal ini bisa berdampak buruk pada banyak hal. Di antaranya:

  1. Ini bisa membuat pesimis “Ahok-Ahok” lain yang bercita-cita menjadi bupati, gubernur, atau bahkan presiden di Indonesia. Mereka khawatir akan ditolak seperti Ahok hanya karena mereka berasal dari agama bukan Islam.
  2. Generasi muda beragama Kristen/Katolik/Budha/Hindu/Khonghucu yang sebenarnya punya potensi menjadi pemimpin dan memajukan Indonesia akan takut terjun ke pemerintahan. Mereka mungkin menjadi “malas” untuk berjuang karena adanya sentimen SARA.
  3. Negeri ini akan semakin dipenuhi oleh orang-orang yang tidak mengamalkan Pancasila. Nilai-nilai kebhinekaan luntur. Kaum minoritas tidak bisa berkontribusi banyak di dalam pemerintahan.

Namun hal-hal tersebut tidak akan terjadi jika “Ahok-Ahok” lain itu berani menghadapi risiko seperti yang Basuki Tjahaha Purnama lakukan saat ini. Hal-hal tersebut juga tidak akan terjadi jika semua orang Indonesia bisa berpikiran terbuka dan berdemokrasi sehat.

Tak dapat dipungkiri, jika Anda berpikir dengan otak yang bersih dan melihat dengan mata yang jernih, maka Anda pasti mengakui bahwa Ahok telah melakukan banyak perubahan baik di Jakarta. Ahok bekerja sungguh-sungguh untuk masyarakat, bukan semata-mata karena itu tanggung jawabnya, melainkan karena itu adalah cita-citanya.

“Kalau kamu punya uang 1 miliar, kamu hanya bisa membantu 2.000 orang. Masing-masing diberi 500 ribu, lalu habis uangnya. Kalau kamu jadi pejabat, kamu bisa bantu orang sedesa, satu pulau,” salah satu pernyataan Ahok kenapa dia memilih terjun ke pemerintahan.

Namun seberapa pun baik kinerja Ahok sebagai Gubenur DKI Jakarta, dan betapa pun mulia niatnya menjadi pemimpin, tetap saja ada yang membenci dirinya. Selain faktor SARA, biasanya penyebab kebencian membabi buta kepada Ahok ialah karena gaya berkomunikasi Ahok yang terlalu apa adanya, terkadang “kasar”, suka marah, dan dinilai tidak “santun”.

Kemudian muncullah berbagai sentimen yang mengarahkan publik untuk membenci Ahok. Beragam fitnah terkait korupsi, reklamasi, dan SARA menyerangnya bertubi-tubi. Berbagai kelompok pun bersatu untuk menjatuhkannya.

Ahok tentu tidak 100 persen sempurna. Gaya berbicaranya yang terlalu frontal memang merupakan kekurangannya. Ahok tidak pandai berbasa-basi dan beretorika. Hal ini membuat Ahok dianggap memancing permusuhan, sekalipun dia mengatakan kebenaran ketika membuka kebobrokan oknum-oknum yang ingin cari untung sendiri di negeri ini.

“Gue juga nggak perlu santun sama orang-orang maling, pengecut dan rasis,” tegas Ahok blak-blakan.

Kinerja Ahok juga belum 100 persen berhasil. Masih banyak masalah di Jakarta yang belum dibereskannya. Kekacauan Ibu Kota yang bagaikan benang kusut, tidak mungkin bisa dirapikan hanya dalam 5 tahun. Masalah-masalah yang menumpuk puluhan tahun di Jakarta, tentunya membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk dibereskan.

Maka tak heran jika Ahok berkeinginan kuat untuk menjadi Gubernur lagi. Jutaan masyarakat Jakarta juga siap mendukungnya, terbukti dengan terkumpulnya 1 juta KTP dukungan untuk Ahok maju dalam Pilgub DKI. Ini membuktikan bahwa banyak orang percaya kepadanya.

Namun tentu saja ada yang menolak Ahok. Sejumlah partai bersatu dengan gerakan “Asal Bukan Ahok”, dengan harapan ada orang lain yang menggantikan Ahok menjadi Gubernur DKI.

Tentunya siapa saja yang layak memimpin DKI berhak untuk menjadi Gubernur. Akan tetapi, ironisnya sejumlah oknum melakukan black campaign dan mencemarkan nama baik Ahok dengan berbagai cara. Seperti isu SARA yang sangat tidak terpuji.

Padahal, meski Ahok terlihat ambisius untuk menang, dia sama sekali tidak arogan mengatakan bahwa masyarakat harus memilih dia. Ahok mengembalikan pendapat masyarakat untuk mengambil pilihan politisnya secara bebas.

“Masyarakat juga bisa pilih, kalau ada yang lebih baik dari saya, lebih terbukti dari saya, kemudian kamu pilih saya, maka kamu bodoh.” - Ahok

Namun sebagai manusia biasa, Ahok bisa juga terlihat emosional ketika orang-orang menyerang suku dan agamanya. Ahok memang tak masalah jika dia kalah, tetapi dia tidak suka jika orang lain ingin mengalahkannya dengan isu SARA.

Jadi, bagi Anda yang ingin negeri ini bisa menjalankan demokrasi yang damai dan adil, kesampingkanlah sentimen SARA. Biarkanlah Ahok menunjukkan apakah dia layak atau tidak berdasarkan visi-misi dan kinerjanya, bukan dianggap tidak layak hanya karena dia berbeda suku/agama-nya dengan Anda.

Ingatlah! Tanah Air adalah milik semua warga negara Indonesia yang mencintai Indonesia apapun suku dan agamanya. Salam Bhinneka Tunggal Ika!

Penulis: Tri Andry

Advertisements

1 Comment »

  1. luar biasa dari isi berita ini. miliki pandangan luar ….. negara ini butuh orang orang yg miliki pandangan dan kebijaksanaan seperti ini

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s