Berbicara mengenai etnisitas, salah satu suku yang kerap dipandang sebelah mata di Indonesia adalah suku Tionghoa. Hingga saat ini pun diskriminasi rasial terhadap orang Cina masih terjadi.

Salah satu contohnya adalah diskriminasi terhadap Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang begitu terang-terangan dilakukan oleh sejumlah orang dan kelompok hanya karena Ahok bersuku minoritas yang dipandang sebagai suku non pribumi dan menjadi pemimpin di wilayah yang mayoritas penduduknya disebut pribumi oleh orang-orang yang suka menggunakan istilah WNI asli dan WNI keturunan.

Tak hanya soal ras, tapi agama Kristen yang dianut Ahok juga menjadi polemik bagi mereka yang tidak mampu mengamalkan sila pertama Pancasila, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa. Seperti diketahui, Kristen merupakan salah satu agama minoritas di Indonesia, sehingga ada berbagai oknum yang mencoba menghasut agama mayoritas untuk lebih memilih pemimpin yang beragama mayoritas.

Seperti orasi Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab saat berunjuk rasa di gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada Senin (4/416) yang lalu berikut ini.

“…Siap lengserkan Ahok? Siap kandang Ahok?… Karena itu saudara saya minta kepada seluruh umat Islam, buka mata buka telinga, rapatkan barisan saudara. Nggak boleh kita terpecah belah… Kita ini jadi pelajaran buat kita bahwa ke depan Gubernur Jakarta harus dari kita. Setuju? Siap rebut Jakarta?….”

Sah-sah saja memilih pemimpin berdasarkan faktor agama. Namun memberikan pernyataan kebencian kepada pemimpin yang berbeda agama di hadapan umum adalah sikap provokatif yang tidak pantas.

Bahkan membuat plesetan Pancasila menjadi Pancagila adalah suatu hal yang tidak lucu. Lalu menyangkutpautkan Pancasila untuk tidak mendukung Ahok yang Cina merupakan suatu pola pikir yang tidak nyambung.

“…Dasar negara kita Pancagila atau Pancasila? Pancagila atau Pancasila? Karena itu kita ingatkan kepada partai-partai, jangan sekali-sekali mendukung Ahok hanya karena dibayar, hanya karena dibeli. Betul? Makanya hari ini saudara saya mengumumkan, ada seorang jenderal bernama Wiranto, kita ganti namanya menjadi Wiranti… Karena dia tega-teganya mengkhianati hati nurani rakyat… Jenderal yang dulu ngaku pembela Pancasila, eh ternyata sekarang penjilat pantat Cina… Kita akan lawan saudara, penjilat-penjilat pantat Cina di Republik ini….”

Maka dari itu, bagi kamu yang tidak menyukai seorang pemimpin, silakan saja mengemukakan alasan-alasanmu yang lebih bijaksana. Ingat, Indonesia itu negara demokrasi yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945, bukan suku atau agama tertentu! Jadi, alangkah indahnya demokrasi jika kamu bisa mengkritisi pemerintah berdasarkan kinerjanya, dan bukan berdasarkan suku atau agama pemimpin tersebut.

Advertisements

1 Comment »

  1. sepertinya di era sekarang ini pemahaman akan pancasila harus lebih digalakkan lagi, seiring dengan menurunnya kualitas ke bhinekaan yang ada

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s